SOSIOLOGI PERIKANAN
“Pendekatan Aquatic dan Marine
Preneurship
di daerah Pandeglang Banten”
(Makalah)
Oleh
Kelompok 5A
Ayunani Agustina 230110140095
Ristiana
Dewi 230110140099
Isma
Yuniar N.A 230110140103
Ulfah
Maisyaroh 230110140105
Rizki
Ayu R 230110140121
Wahyu
Setiawan 230110140122
UNIVERSITAS
PADJAJARAN
BANDUNG
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN
PERIKANAN
2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kami dapat
menyelesaikan paper ini dengan judul
“Pendekatan Aquatic dan Marine Prenership di Kabupaten Pandeglang, Banten”.
Tujuan penulisan paper ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pengantar Ilmu Perikanan.
Paper
ini membahas mengenai pengertian dan perkembangan teori sosiologi menurut para ahli sosiologi,
perkembangan tokoh sosiologi, teori sosiologi ekonomi, perkembangan sosiologi
perikanan melalui pendekatan aquatic and
marine prenership serta analisis
studi kasus di wilayah Kabupaten
Pandeglang Banten melalui metode
historis pendekatan aquatic and marine
prenership.
Pada
kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Dr. Atikah Nurhayati,
SP.MP, selaku Dosen mata kuliah Sosiologi Perikanan ;
2.
Seluruh anggota
kelompok 5A
;
3.
Pihak-pihak yang tidak
bisa disebutkan satu persatu.
Demikianlah
harapan kami, semoga paper ini dapat bermanfaat bagi kami dan juga pembaca
tentunya. Adanya saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan paper
selanjutya sangat dihargai, kami ucapkan terima kasih.
Jatinangor, Maret 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGATAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian dan
Perkembangan Teori Sosiologi Menurut
Para Ahli Sosiolog
2.2 Perkembangan Tokoh Sosiologi
2.3
Teori Sosiologi Ekonomi
BAB III
ANALISIS
3.1
Sejarah Singkat Kabupaten Pandeglang
3.2
Kondisi Umum
3.3 Letak Geografis dan
Kondisi Wilayah
3.4 Kondisi Ekonomi Perairan
3.5
Lingkungan Laut
3.6
Kondisi Sosial Ekonomi Budaya
3.7
Lingkungan Masyarakat
3.8 Mengentaskan Kemiskinan Masyarakat
Pesisir
3.9 Pendekatan Konservasi
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Sosiologi
adalah suatu studi positif tentang hukum-hukum dasar dari berbagai gejala
sosial yang dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Istilah
“sosiologi” pertama kali digunakan oleh Auguste Comte pada tahun 1839, seorang
ahli filsafat kebangsaan Prancis. Definisi dari sosiologi sendiri merupakan
ilmu yang mempelajari tentang hubungan manusia dengan lingkungannya.
Indonesia
adalah salah satu negara yang memiliki penduduk terbesar didunia. Selain itu,
terdiri dari banyak ragam budaya, suku, ras maupun agama. Dari beragam
perbedaaan tesebut memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung,
baik dari interaksi sosial maupun kebiasaan yang sehari-hari dilakukan. Dari
luasnya daratan dan lautan yang dimiliki menyimpan banyak potensi besar bagi
rakyatnya. Salah satumya adalah bidang perikanan, baik perikanan tangkap,
budidaya dan pengolahan.
Di
dalam tugas ini akan membahas perkembangan Sosiologi Perikanan di daerah
Pandeglang, Banten. Metode yang digunakan melalui pendekatan aquatic dan marine prenership.
Tujuan
disusunnya makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Perikanan
pada semester 2, serta dapat memahami ruang lingkup Sosiologi Perikanan melalui
pendekatan aquatic and marine prenership.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1.
Pengertian dan Perkembangan Teori Sosiologi Menurut Para Ahli Sosiologi
Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang
dikemukakan beberapa ahli:
a) Emile Durkheim
Sosiologi
adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung
cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana
fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.
b) Selo
Sumardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi
adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses
sosial termasuk perubahan sosial.
c) Soejono Sukamto
Sosiologi adalah ilmu yang
memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan
berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
d) William Kornblum
Sosiologi
adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial
anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok
dan kondisi.
e) Roucek & Warren
Sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok sosial.
f) William F. Ogburn dan Mayer
F. Nimkopf
Sosiologi adalah penelitian secara
ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
g) Max Weber
Sosiologi adalah ilmu yang berupaya
memahami tindakan-tindakan sosial.
h) Paul B.
Horton
Sosiologi adalah ilmu yang
memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok
tersebut.
2.2. Perkembangan Tokoh
Sosiologi
Tokoh-tokoh yang mempengaruhi perkembangan sosiologi
a) Ibnu Khaldun
(1332-1406)
Ibnu Khaldun
lahir di Tunisia, Afrika Utara, 27 Mei 1332 (Faghirazadeh, 1982). Ia lahir dari
keluarga terpelajar, dimasukkan ke sekolah Al-Quran, kemudian mempelajari
matematika dan sejarah. Semasa hidupnya ia membantu berbagai Sultan di Tunisia,
Maroko, Spanyol dan Al-Jazair sebagai duta besar, bendaharawan dan anggota
dewan penasehat sultan.
Adapun pendapat Khaldun tentang
watak-watak masyarakat manusia dijadikannya sebagai landasan konsepsinya bahwa
kebudayaan dalam berbagai bangsa berkembang melalui empat mazhab yaitu fase
primitif atau nomaden, fase urbanisasi, fase kemewahan, dan fase kemunduran
yang mengantarkan kehancuran. Kemudian keempat perkembangan ini oleh Khaldun
sering disebut dengan fase pembangun, pemberi gambar gembira, penurut, dan
penghancur.
b) Auguste
Comte (1789-1857)
Auguste
Comte lahir di Mountpelier Perancis, 19 Januari 1798. Ia merupakan bapak sosiologi, orang pertama yang
menggunakan istilah sosiologi (socius dan logos). Pengaruhnya
besar sekali terhadap para teoritis sosiologi selanjutnya (terutama Hebert
Spencer dan Emile Durkheim).Dia mempunyai anggapan bahwa sosiologi terdiri dari
dua bagian pokok, yaitu social statistic (statika sosial atau struktur
sosial yang ada) dan social dynamic (dinamika sosial atau perubahan
sosial).
Sebagai sosial statistik, sosiologi
merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sebagai sosial dinamik, meneropong bagaimana
lembaga-lembaga itu berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa. Landasan
pendekatan Comte ialah teori evolusinya atau hukum tiga tingkatan. Ia menyatakan
ada tiga tingkatan intelektual yang harus dilalui dunia di sepanjang
sejarahnya. Pertama, tahap teologis menekankan pada keyakinan bahwa
kekuatan adikodrati, tokoh agama, dan keteladanan kemanusiaan menjadi dasar
segala sesuatu. Kedua, tahap metafisik ditandai oleh keyakinan bahwa
kekuatan abstraklah yang menerangkan segala sesuatu, bukannya dewa-dewa
personal. Ketiga, tahap positivistik yang ditandai oleh keyakinan
terhadap ilmu sains. Manusia mulai cenderung menghentikan penelitian terhadap (Tuhan
atau alam) dan dunia sosial guna mengetahui hukum-hukum yang mengaturnya.
Dalam teorinya tentang dunia, Comte
menyatakan bahwa kekacauan intelektual menyebabkan kekacauan sosial. Menurut
pandangannya, kehidupan di dunia ini sudah cukup kacau, dan yang dibutuhkan
dunia adalah perubahan intelektual. Ada beberapa aspek lain yang juga berperan
penting dalam pengembangan teori sosiologi. Ia menyatakan bahwa kita harus
memperhatikan struktur sosial dan perubahan sosial. Ia menekankan besarnya
peran konsesnsus dalam masyarakat. Dan ia juga menekankan perlunya memahami
teori abstrak dan melakukan riset sosiologi. Comte yakin sosiologi akhirnya
akan menjadi kekuatan ilmiah dominan di dunia karena kemampuan istimewanya
dalam menafsirkan hukum sosial dan melakukan reformasi yang bertujuan
menyelesaikan masalah dalam sistem.
Menurut Comte, masyarakat harus
diteliti atas dasar fakta-fakta objektif dan dia juga menekankan pentingnya
penelitian-penelitian perbandingan antara berbagai masyarakat yang berlainan.
Hasil karya Comte yang terutama adalah :
1.
The Scientific Labors Necerssary for
Reorganization of Society (1822);
2.
The Positive Philosophy (6 jilid
1830-1840);
3.
Subjective Synthesis (1820-1903).
c) Karl Marx
(1818-1883)
Karl Marx
lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Ia adalah seorang ahli filsafat sejarah
Jerman. Marx hidup selama abad ke-19, yaitu saat kapitalisme merajai wilayah
Eropa dan Amerika.
Marx yakin bahwa setiap manusia perlu
bekerja di dalam dan dengan alam. Produktivitas mereka bersifat alamiah, yang memungkinkan
mereka mewujudkan dorongan kreatif mendasar yang mereka miliki. Dengan kata
lain manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial. Mereka perlu bekerja
bersama untuk menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk hidup. Melalui
perjalanan sejarah, proses alamiah ini dihancurkan, dan mencapai titik
puncaknya dalam kapitalisme. Kapitalisme pada dasarnya adalah sebuah struktur
yang membuat batas pemisah antara seorang individu dan proses produksi, produk
yang diproses dan orang lain, dan akhirnya juga memisahkan diri individu itu
sendiri.
Dalam terminologi sarjana beraliran
Marxist, tanaman produksi, pabrik baja, dan yang serupanya disebut sebagai
alat-alat produksi, dan mereka yang menjadi pemiliknya disebut dengan kaum
borjuis. Para pekerja yang menjual tenaganya untuk kaum borjuis itu disebut
kaum proletar. Marx percaya bahwa setiap masyarakat kapitalis pada akhirnya
akan terpecah oleh konflik antara kaum borjuis dan proletar.
Menurut Marx, kapitalisme di dalamnya
memiliki penyebab-penyebab kerusakannya. Kaum borjuis memberi upah yang sangat
rendah sehingga kaum proletar hampir tidak mungkin bertahan hidup. Marx memberi
prediksi bahwa kehidupan para pekerja yang sengsara itu akan memberi penyadaran
bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari kesengsaraan itu adalah dengan
bersatu dan melakukan revolusi. Marx juga percaya bahwa sifat dasar pekerja
industri juga memberi kontribusi bagi kejatuhan kapitalisme. Marx yakin bahwa
tragedi kapitalisme terjadi dengan cara bahwa suatu sistem mentransformasikan
kerja dari sesuatu yang bermakna menjadi sesuatu yang tidak bermakna.
d) Emile
Durkheim (1858-1917)
Emile
Durkheim lahir di Epinal, Perancis 15 April. Dia adalah seorang sosiolog
teoritis dan praktisi pendidikan. Durkheim fokus kepada kesatuan masyarakat. Menurutnya,
sosiologi meneliti lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses-proses sosial. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia
memerlukan solidaritas.
Ia membedakan antara dua tipe
utama solidaritas: solidaritas mekanis, dan solidaritas organis. Lambat laun
pembagian kerja dalam masyarakat semakin berkembang sehingga solidaritas mekanis
berubah menjadi solidaritas organis.
Dalam The Rule of
Sosiological Method (1895/1982) Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi
adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta sosial. Ia
membayangkan fakta sosial sebagai kekuatan dan struktur yang bersifat eksternal
dan memaksa individu. Ia juga membedakan antara dua tipe fakta sosial:
material dan nonmaterial. Ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitif
dipersatukan terutama oleh fakta sosial nonmaterial. Sedangkan masyarakat
modern, kekuatan kesadaran kolektif telah menurun, pembagian kerja yang ruwet,
yang mengikat orang yang satu dengan orang lainnya dalam hubungan saling
tergantung. Dan dalam karyanya yang terakhir, The Elementary Forms of Religious
Life (1912/1965) Durkheim yakin bahwa sumber agama adalah masyarakat itu
sendiri. Dalam agama primitif
benda-benda seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang didewakan. Akhirnya
Durkheim menyimpulkan bahwa masyarakat dan agama adalah satu dan sama.
Dalam
masalah sosiologi, beliau mengklasifikasikan pembagian sosiologi atas tujuh
kelompok, yaitu:
a. Sosiologi
umum yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia.
b. Sosiologi
agama
c. Sosiologi
hukum dan moral yang mencakup organisasi politik, organisasi social, perkawinan dan keluarga.
d. Sosiologitentang
kejahatan
e. Sosiologi
ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja
f. Demografi
yang mencakup masyarakat pedesaan dan perkotaan
g. Sosiologi
estetika
Hasil
karyanya yang terkemuka:
a. The Social
Division of Labor (1893)
b. The Rules of
Sociological Method (1895)
c.
The Elementary Forms of Religious (1912)
2.3. Teori Sosiologi Ekonomi
Sosiologi
ekonomi adalah studi sosiologis yang bertujuan untuk menganalisis hubungan
antara ekonomi dan fenomena sosial. Asumsi yang dibangun sosiologi ekonomi
dalam melihat fenomena ekonomi adalah tindakan ekonomi sebagai suatu bentuk
tindakan sosial, tindakan ekonomi disituasikan secara sosial, dan institusi ekonomi
merupakan konstruksi sosial.
Tradisi sosiologi sendiri, dalam
perkembangan studi sosiologi ekonomi mengalami pasang surut. Kontribusi awal
paling signifikan mungkin dilakukan oleh Max Weber dalam ‘The Protestan Ethic
and The Spirit of Capitalism’. Meskipun masih menuai perdebatan apakah The
Protestan Ethic ‘menyebabkan’ kapitalisme, karya Weber dianggap sebagai salah
satu sejarah studi sosiologi ekonomi yang mendapat banyak perhatian oleh para
sosiolog. Kontribusi teori kontemporer dalam sosiologi ekonomi adalah analisis
ekonomi dengan pendekatan social embeddedness. Meskipun Weber tidak pernah
menyebutkan social embeddednes dalam teori sosiologi ekonomi-nya, beberapa
sosiolog menyebut teori Weber sebagai ‘The Hidden Theory of Embeddedness’
Perkembangan sosiologi ekonomi
tentang social embeddedness dilakukan oleh Karl Polanyi pada 1950. Namun,
Polanyi lebih banyak mengkaji aspek political ekonomy dari embeddedness
ketimbang social embeddedness itu sendiri. Para pemikir strukturalis di Amerika
juga mengembangkan sosiologi ekonomi yang mendekatkan antara Economy dan
Society, adalah Talcott Parson yang memberi banyak pengaruh pada sosiolog
ekonomi sampai periode 1960-an. Tetapi, analisis pengikutnya yang terlalu
bersifat institusionalis tidak diterima oleh para ekonom neoklasik pada waktu
itu. Analisis itu juga dianggap oleh Granovetter sebagai cara pandang
‘oversocialized’ terhadap fenomena ekonomi.
Studi sosiologi ekonomi sempat
mengalami vacuum sekitar tahun 1960-1970.Dalam arti, tidak ada karya intelektual
yang memberi pengaruh signifikan terhadap sosiologi ekonomi. Sosiologi dan
ekonomi seakan terpisah satu sama lain dengan segala persoalanya sendiri.
Perkembangan sosiologi ekonomi mengalami kebangkitan kembali melaui artikel
yang diterbitkan oleh American Journal of Sociology pada 1985 ‘Economic Action
and Social Structure: The Problem of Embeddedness’. Perkembangan teoritis
tersebut menjadi awal dari studi yang kini dikenal sebagai ‘The New Economic
Sociology’.
BAB III
ANALISIS
3.1.
Sejarah Singkat Kabupaten Pandeglang
Menurut Staatsblad Nederlands Indie
No. 81 tahun 1828, Keresidenan Banten dibagi tiga kabupaten: Kabupaten Utara
yaitu Serang, Kabupaten Selatan yaitu Lebak dan Kabupaten Barat yaitu Caringin.
Kabupaten Serang dibagi lagi menjadi 11 (sebelas) kewedanaan. Kesebelas
kewedanaan tersebut yaitu: Kewedanaan Serang (Kecamatan Kalodian dan Cibening),
Kewedanaan Banten (Kecamatan Banten, Serang dan Nejawang), Kewedanaan Ciruas
(Kecamatan Cilegon dan Bojonegara), Kewedanaan Cilegon (Kecamatan Terate,
Cilegon dan Bojonegara), Kewedanaan Tanara (Kecamatan Tanara dan Pontang),
Kewedanaan Baros (Kecamatan Regas, Ander dan Cicandi), Kewedanaan Kolelet
(Kecamatan Pandeglang dan Cadasari) Kewedanaan Ciomas (Kecamatan Ciomas Barat
an Ciomas Utara) dan Kewedanaan Anyer (tidak dibagi kecamatan).
Menurut sejarah, pada tahun 1089
Banten terpaksa harus menyerahkan wilayahnya yaitu Lampung kepada VOC
(Batavia).Saat itu Banten dipimpin oleh Sultan Muhamad menyusun strategi untuk
melawan kekuasaan VOC. Sultan Muhamad menjadikan Pandeglang sebagai wilayah
untuk menyusun kekuatan.Kekuatan kesultanan dipencar kepelosok Pandeglang
seperti di kaki gunung Karang dan di pantai.Pandeglang dalam percaturan sejarah
kesultanan Banten telah terbukti merupakan daerah yang strategis.Hal ini bisa
terlihat dari berbagai peninggalan sejarah yang terdapat di wilayah Pandeglang.
Semua itu bukan hanya membekas pada benda yang berwujud, tapi juga membekas
pada kultur kehidupan masyarakat Pandeglang.
Peninggalan sejarah kesultanan Banten masih nampak
terlihat dari seni budaya yang ada di Pandeglang.Misalnya saja, Pandeglang
merupakan Kota Santri dan Pandeglang terkenal dengan daerah yang historis,
patriotis dan agamis. Julukan ini tidak serta merta timbul dengan sendirinya,
akan tetapi merupakan bentangan sejarah telah mencatatnya.
Saat ini Pandeglang tetap merupakan wilayah yang
strategis di wilayah Provinsi Banten.Sejarah kembali mencatat, Pandeglang
dengan tokoh-tokoh masyarakatnya memberi andil besar dalam pembentukan Provinsi
Banten. Sejarah Pandeglang mencatat juga, bahwa saat dipimpin oleh Bupati H. A.
Dimyati Natakkusumah, Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Swasta
di Kabupaten Pandeglang Bebas Biaya Sekolah dan pada tahun 2007 pembangunan
sarana pendidikan dibangun dengan menggunakan rangka baja. Kembali kepada
sejarah terbentuknya Kabupaten Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874,
tanah-tanah gubernur kecuali Bativia dan Keresidenan Priangan telah Banten
telah ditentukan, bahwa:
a. Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari
Afdeling Anyer, Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan.
b. Bupati mempunyai pembantu, yaitu mantri
Kabupaten dengan gaji 50 gulden.
c. Kepala Distrik mempunyai gelar jabatan
wedana dan Onder Distrik mempunyai jabatan Asisten Wedana.
Berdasarkan Staatsblad 1874 NO. 73 Ordonansi tanggal 1
Maret 1874 mulai berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya
Kabupaten Pandeglang dibagi 9 distrik atau kewedanaan. Pembagian ini menjadi
Kewedanaan Pandeglang, Baros, Ciomas, Kolelet, Cimanuk, Caringin, Panimbang,
Menes dan Cibaliung.f
Menurut data tersebut di atas, Pandeglang sejak tanggal
1 April 1874 telah ada pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam ordonansi 1877
Nomor 224 tentang batas-batas keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupten
Pandeglang dalam tahun 1925 dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda
tanggal 14 Agustus 1925 nomor XI. Maka jelas Kabupaten Pandeglang telah berdiri
sendiri tidak di bawah penguaasaan Keresidenan Banten.
Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat diambil beberapa
alternatif, yaitu pada tahun 1828 Pandeglang sudah merupakan pusat pemerintahan
distrik. Pada tahun 1874 Pandeglang merupakan kabupaten. Pada tahun 1882
Pandeglang merupakan kabupaten dan distrik kewedanaan. Dan pada tahun 1925 kabupaten
Pandeglang telah berdiri sendiri. Atas dasar kesimpulan-kesimpulan tersebut di
atas, maka disepakati bersama bahwa tanggal 1 April 1874 ditetapkan sebagai
hari jadi Kabupaten Pandeglang.
3.2. Kondisi Umum
Kabupaten
Pandeglang merupakan kabupaten di Provinsi Banten yang memiliki kondisi terumbu
karang yang masih baik jika dibandingkan kabupaten lainnya. Dasar hukum
penetapan KKLD Kab.Pandeglang adalah SK Bupati Nomor 660/Kep.369-Huk/2007.
Provinsi : Banten
Kabupaten
/ Kota : Pandeglang
Nama
Kawasan : Kawasan Konservasi Laut
Pandeglang
Dasar
Hukum : Keputusan Bupati
Pandeglang
Nomor
: 660/Kep.369 - Huk/2007
Tipe
Kawasan : Kawasan Konservasi
Perairan Daerah
Luas
Kawasan : 7,391.00
Kategori
IUCN : VI
Garis
Lintang : 6021' - 7010' LS
Garis
Bujur : 104048’ - 106011’ BT
3.3. Letak
Geografis dan Kondisi Wilayah
Wilayah Kabupaten Pandeglang berada pada bagian Barat
Daya Propinsi Banten dan secara Geografis terletak antara 6o21’
– 7o10’ Lintang Selatan (LS) dan 104o8’ – 106o11’
Bujur Timur ( BT ), dengan batas administrasinya adalah :
- Sebelah Utara :
Kabupaten Serang
- Sebelah Timur :
Kabupaten Lebak
- Sebelah Selatan :
Samudera Indonesia
- Sebelah Barat :
Selat Sunda
Luas wilayah Kabupaten Pandeglang adalah 274.689,91 Ha
atau 2.747 Km2 dan secara wilayah kerja administrasi terbagi
atas 35 kecamatan, 322 desa dan 13 kelurahan.
Dataran di Kabupaten Pandeglang sebagian besar merupakan
dataran rendah yakni di daerah bagian tengah dan selatan, dengan variasi
ketinggian antara 0 – 1.778 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan luas
sekitar 85,07% dari luas wilayah Kabupaten. Secara umum perbedaan ketinggian di
Kabupaten Pandeglang cukup tajam, dengan titik tertinggi 1.778 m diatas
permukaan laut (dpl) yang terdapat di Puncak Gunung Karang pada daerah bagian
utara dan titik terendah terletak didaerah pantai dengan ketinggian 0 m dpl.
Daerah pegunungan pada umumnya mempunyai ketinggian ±
400 m dpl, dataran rendah bukan pantai pada umumnya memiliki ketinggian
rata-rata 30 m dpl dan daerah dataran rendah pantai pada umumnya mempunyai
ketinggian rata-rata 3 m dpl. Kemiringan tanah di Kabupaten Pandeglang
bervariasi antara 0 – 45 %; dengan alokasi 0- 15 % areal
pedataran sekitar Pantai Selatan dan pantai Selat Sunda; alokasi 15
– 25 % areal berbukit lokasi tersebar; dan alokasi 25 – 45 %
areal bergunung pada bagian Tengah dan Utara.
Di Pandeglang terdapat 6 gunung yaitu : Gunung Karang
(1.778 mdpl), Gunung Pulosari (1.346 mdpl), Gunug Aseupan (1.174
mdpl), Gunug Payung (480 mdpl), Gunung Honje (620 mdpl) dan Gunung Tilu (562
mdpl).
Curah hujan di atas 3.000 mm/tahun terjadi di sekitar
Stasion Penakar Hujan yang berada di sekitar Kecamatan Menes, Labuan,
Cibaliung, Mandalawangi dan Kecamatan Jiput. Puncak hari hujan berada
pada bulan November-Pebruari.Sedangkan bulan kering berada pada bulan
Mei-September. Berdasarkan rata-rata curah hujan per tahun,
-menurut klasifikasi Koppen-Kabupaten Pandeglang termasuk kedalam iklim
Af (Iklim Hujan Tropis) sedangkan apabila dilihat berdasarkan Zone Agroklimat
Oldeman termasuk dalam Zone A1.
Kabupaten Pandeglang ditinjau dari segi geologi
memiliki beberapa jenis batuan yang meliputi Alluvium, Undieferentiated (bahan
erupsi gunung berapi), Diocena, Piocena Sedimen, Miocena Lemistone dan Mineral
Deposit. Sedangkan beberapa jenis tanah yang ada di Kabupaten Pandeglang yaitu
Aluvial, Grumosol, Mediteran, dan Latosol.
Keadaan geomorfologi, topografi dan bentuk wilayah
secara bersama-sama akan membentuk pola-pola aliran sungai yang ada. Pola
aliran sungai di Wilayah Kabupaten Pandeglang pada umumnya berbentuk
dendritik. Arah aliran sungai-sungai di Wilayah ini dibedakan menjadi
dua, sehingga membentuk dua daerah aliran sungai yaitu daerah aliran dari arah
Timur yang bermuara di Selat Sunda dan daerah aliran dari arah Utara yang
bermuara di Samudera Indonesia.
Wilayah Kabupaten Pandeglang mengalir 14 sungai yang
berukuran sedang sampai besar. Sungai – sungai tersebut
adalah Sungai Cidano, Sungai Cibungur, Sungai Cisanggona, Sungai Ciliman,
Sungai Cihonje, Sungai Cipunagara, Sungi Cisumur, Sungai Ciseureuhan, Sungai
Cijaralang, Sungai Cikadongdong, Sungai Ciseukeut, Sungai Cimara, Sungai
Cibaliung, dan Sungai Cicanta. Dari ke-14 sungai tersebut terbagi dalam 6
(enam) Daerah Aliran Sungai (DAS) antara lain :
a.
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Ciujung
b.
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Cidano
c.
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Cibungur
d.
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Ciliman
e.
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Cimandiri
f.
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Cikeruh
3.4. Kondisi Ekonomi Perairan
Di
perairan Kabupaten Pandeglang terdapat penutupan karang keras yang bervariasi
dari buruk sekali hingga baik. Kondisi terburuk ditemukan di Karang Kabua
karena lokasi ini didepan pelabuhan perikanan dan banyak aktivitas manusia
disekitarnya. Kondisi terbaik dapat ditemukan di 3 lokasi yaitu Pulau Liwungan,
Pulau Badul dan Karang Badul dengan penutupan karang hidup diatas 60 %. Nilai
CFDI (coral fish diversity index) di perairan Kabupaten Pandeglang sebesar 106
dengan estimasi total fauna sebanyak 338.745 spesies. Hal ini berarti perairan
pandeglang memiliki keanekaragaman spesies yang termasuk kategori buruk (poor),
namun di lokasi pengamatan Pulau Badul masih dalam kategori sedang. Rata-rata
kelimpahan ikan karang secara keseluruhan sebesar 9.783 ind.ha-1. Di Pandeglang
juga terdapat 7 situ yang luasnya 580 ha sebagai sebaran air di
permukaan yang berfungsi sebagai sumber daya air di Kabupaten Pandeglang.
3.5. Lingkungan Laut
Lingkungan
laut di Kabupaten Pandeglang bagian
barat, yang berbatasan dengan Selat Sunda. Selat Sunda disamping Alur Laut
Kepulauan Indonesia (ALKI), juga merupakan perairan yang sangat menarik, sebab
pada musim timuran, saat terjadi surut di Samudera Hindia akan terjadi
pertemuan dua arus di Samudera Hindia dengan masa air laut dari Laut Jawa yang
berbeda karakteristiknya. Pada pertemuan dua masa air laut ini biasanya diikuti
oleh banyaknya ikan.
Pada
musim baratan, curah hujan di DAS Ciliman yang bermuara ke Teluk Lada sangat
besar, sehingga debit air yang mengalir ke Teluk Lada menyebabkan menurunnya
salinitas air laut. Di pihak lain perairan seperti itu merupakan daerah subur
bagi ikan-ikan yang hidup di perairan payau yang bermigrasi ke laut. Biota laut
Selat Sunda relatif kaya (beragam) dan sangat spesifik.
3.6. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya
a. Mata Pencaharian
Pertanian merupakan sektor dominan
b. Potensi Perikanan
Potensi
sumberdaya perikanan laut masih sangat terbuka untuk dilakukannya intensifikasi
dan ekstensifikasi (pengembangan) produksi, mengingat Kabupaten Pandeglang
memiliki panjang pantai 307 km yang membentang sepanjang pesisir Barat dan
selatan kabupaten Pandeglang sampai perbatasan Malingping (kabupaten Lebak). Intensifikasi
dan ekstensifikasi sumberdaya perikanan laut ini dapat dilakukan pengembangan
industri pengalengan/penjemuran/pengeriangan ikan, optimalisasi fungsi Tempat
Pelelangan Ikan (TPI), pembangunan tambak dan hatchery. Demikian juga dengan
pengembangan perikanan darat (air tawar) sebagai kegiatan substitusi dari usaha
pertanian lahan basah (padi), disamping ketersediaan lahan budidaya dan sumber
mata air yang cukup banyak.
3.7. Kondisi Masyarakat
Masyarakat
di kabupaten Pandeglang di dominasi masyarakat pesisir yang difokuskan pada kelompok nelayan dan
pembudidaya ikan serta pedagang dan pengolah ikan. Kelompok ini secara langsung
mengusahakan dan memanfaatkan sumberdaya ikan melalui kegiatan penangkapan dan
budidaya. Kelompok ini pula yang mendominasi pemukiman di wilayah pesisir di
seluruh Indonesia, di pantai pulau-pulau besar dan kecil. Sebagian masyarakat
nelayan pesisir ini adalah pengusaha skala kecil dan menengah. Namun lebih
banyak dari mereka yang bersifat subsisten, menjalani usaha dan kegiatan
ekonominya untuk menghidupi keluarga sendiri, dengan skala yang begitu kecil
sehingga hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka waktu sangat
pendek.
Dari
sisi skala usaha perikanan di kabupaten Pandeglang, kelompok masyarakat pesisir
miskin diantaranya terdiri dari rumah tangga perikanan yang menangkap ikan
tanpa menggunakan perahu, menggunakan perahu tanpa motor dan perahu bermotor
tempel. Dengan skala usaha ini, rumah tangga ini hanya mampu menangkap ikan di
daerah dekat pantai. Dalam kasus tertentu, memang mereka dapat pergi jauh dari
pantai dengan cara bekerjasama sebagai mitra perusahaan besar. Namun usaha dengan
hubungan kemitraan seperti tidak begitu banyak dan berarti dibandingkan dengan
jumlah rumah tangga yang begitu banyak.
3.8. Mengentaskan Kemiskinan Masyarakat Pesisir
Berbagai
program, proyek dan kegiatan telah dilakukan untuk mengentaskan nelayan dari
kemiskinan di kabupaten Pandeglang.Desa-desa pesisir semakin hari semakin luas
areanya dan banyak jumlahnya. Karena itu meskipun banyak upaya telah dilakukan,
umumnya bisa dikatakan bahwa upaya-upaya tersebut belum membawa hasil yang
memuaskan.
Salah
satunya dengan motorisasi armada nelayan skala kecil, yaitu program yang dikembangkan pada awal tahun
1980-an untuk meningkatkan produktivitas. Program motorisasi dilaksanakan di
daerah padat nelayan, juga sebagai respons atas dikeluarkannya Keppres No. 39
tahun 1980 tentang penghapusanpukat harimau. Program ini semacam kompensasi
untuk meningkatkan produksi udang nasional.
Namun
ternyata motorisasi armada ini banyak gagal karena tidak tepat sasaran yaitu bisa
melawan nelayan kecil, dimanipulasi oleh aparat dan elit demi untuk kepentingan
mereka dan bukannya untuk kepentingan nelayan. Akan tetapi program motorisasi
ini juga membawa dampak positip, dilihat dari bertambahnya
jumlah perahu bermotor di banyak
daerah di Indo-nesia. Saat ini bila ada program pemerintah untuk mengadakan
armada kapal/perahu nelayan, atau bila ada rencana investasi oleh nelayan,
selalu pengadaan motor penggerak perahu menjadi permintaan nelayan.
Program lain yang dikembangkan untuk
mengentaskan kemiskinan adalah pengembangan nilai tambah melalui penerapan
sistem rantai dingin (cold chain system).
Sistem rantai dingin adalah penerapan cara-cara penanganan ikan dengan menggunakan
es guna menghindari kemunduran mutu ikan. Dikatakan sistem rantai dingin karena
esensinya yaitu menggunakan es di sepanjang rantai pemasaran dan transportasi
ikan, yaitu sejakditangkap atau diangkat dari laut hingga ikan tiba di pasar
eceran atau di tangan konsumen.
3.9. Pendekatan Konservasi
Kabupaten
Pandeglang memiliki potensi pariwisata diantaranya sumber mata air panas
Cisolong yang terletak di Kecamatan Banjar, situ Cikedal di kecamatan Cikedal,
Pantai Carita yang terletak di Kecamatan Labuan, Kolam Renang Alam Cikoromoy di
Kecamatan Mandalawangi, wisata Pantai Bama di Kecamatan Pagelaran, wisata
Tanjung Lesung di Kecamatan Panimbang. Dari kabupaten ini juga menjadi pintu
masuk menuju Taman Nasional Ujung Kulon yaitu melalui Kecamatan Panimbang yang
merupakan batas timur dari taman nasional
Daerah
pantai di Pandeglang Banten menjadi salah satu andalan di sektor pariwisata di
daerah pulau Jawa, seperti Pantai Carita, Tanjung Lesung, Taman Nasional Ujung
Kulon dan objek wisata lainnya. Pandeglang yang hampir setiap akhir pekannya
selalu di jadikan primadona kunjungan wisatawan baik dari Banten maupun luar
Banten,
Dengan
jumlah penduduk sekitar 1.120.500 jiwa atau 12,45% dari total penduduk Provinsi
Banten yang memiliki kultur masyarakatnya yang agamis, histories, dan
patriotis, pemerintah setempat telah mampu mengembangkan perpaduan pembangunan
di segala bidang seperti sector pertanian, perumahan, dan industri kecil untuk
mengimbangi dan mendukung pesatnya perkembangan pariwisata.
Menyebut
Pandeglang sebagai daerah yang memiliki potensi wisata, memang benar adanya.
Pandeglang adalah sebuah kota kecil di Perbatasan Kabupaten Lebak dengan
Kabupaten Serang bagian Barat, merupakan daerah
yang sampai saat ini masih alami. Belum banyak potensi alam yang
disentuh dengan tangan manusia apalagi teknologi.Keaslian inilah yang merupakan
aset Pandeglang untuk dapat berkembang menjadi daerah tujuan wisata.Di
Pandeglang juga banyak ditemukan objek wisata bernuansa mistis yang memiliki
nilai spiritual dan magis serta diyakini menyimpan kekuatan gaib.Adapun
beberapa objek wisata yang dimaksud adalah Obyek Wisata Batu Qur‟an.
BAB 1V
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Pandeglang
memiliki potensi yang besar dalam sektor perikanan, diantaranya perikanan
budidaya dan tangkap. Dalam perikanan budidaya terlihat dari luasnya lahan dan
banyaknya sumber mata air. Sehingga dapat dijadikan budidaya kolam terpal
maupun kolam tembok. Dan dapat pula digabungkan dengan sector pertanian,
contohnya minapadi (menanam padi dengan memelihara ikan di lahan yang sama).
Kemudian pada situ-situ dan sungai yang dimiliki dapat dibuat kolam jaring
apung. Pada pesisir pantai, masyarakat sekitar dapat memanfaatkan sebagai lahan
tambak, dan tempat hatchery. Dapat
juga dijadikan lahan penghasil garam.
Dalam
perikanan tangkap, masyarakat sekitar pesisir pantai dapat memanfaaatkan Samudera
Indonesia dan Selat Sunda. Karena saat musim timuran terjadi pertemuan 2 arus
antara arus Samudera Indonesia dan Selat Sunda. Mengakibatkan banyaknya ikan
yang berkumpul disekitar daerah tersebut. Kemudian didaerah sekitar muara di
Teluk Lada, pada musim baratan salinitas laut di daerah tersebut menurun
menyebabkan daerah tersebut menjadi subur. Sehingga banyak ikan yang berkumpul
didaerah tersebut untuk mencari makan. Sangat disayangkan dengan banyaknya
potensi yang ada, namun tidak dapat dimaksimalkan oleh Pemerintah Kabupaten
maupun Daerah serta masyarakat Kabupaten Pandeglang, Banten.
4.2. Saran
Dalam
hal tersebut, dapat dilihat bahwa Pemerintah Kabupaten kurang memperhatikan
kesejahteraan masyarakat di Pandeglang, Banten. Seharusnya dengan banyaknya
potensi yang ada, PEMKAB Pandeglang membuat langkah riil dalam memajukan dan
mensejahterahkan masyarakatnya. Dengan memaksimalkan potensi yang ada, maka
tingkat kesejahteraan masyarakat akan meningkat sehingga dapat menaikkan
penghasilan daerah tersebut, baik dari sektor perikanan maupun pariwisata.
Pastinya sangat membantu dan memudahkan masyarakat menengah ke bawah yang hanya
mengandalkan sektor pertanian sebagai penghasilan utamanya dan membantu
masyarakat pesisir pantai yang tidak memiliki penghasilan dan pekerjaan tetap.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2007.http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/basisdata-kawasan-konservasi/details/1/77. Diakses pada tanggal 8 Maret 2015.Pada pukul 21.04 WIB.
Anonim,
2002.http://www.dephut.go.id/Halaman/PDF/renstra02-06.pdf.
Diakses pada tanggal 8 Maret 2015.Pada pukul 22.04 WIB
Anonim. 2011. http://www.pandeglangkab.go.id/profil.php?prof=NA==. Diakses
pada tanggal 9 Maret 2015. Pada pukul 14.01 WIB
Harim,Sidiq.
2013.http://sosiologis.com/sosiologi-ekonomi-definisi-dan-sejarahnya. Diakses pada tanggal 9 Maret 2015. Pada pukul 14.13 WIB
