Selasa, 10 Maret 2015

“Pendekatan Aquatic dan Marine Preneurship di daerah Pandeglang Banten”





SOSIOLOGI PERIKANAN
“Pendekatan Aquatic dan Marine Preneurship
di daerah Pandeglang Banten”
(Makalah)

Oleh
Kelompok 5A
Ayunani Agustina     230110140095
Ristiana Dewi            230110140099
Isma Yuniar N.A       230110140103
Ulfah Maisyaroh       230110140105
Rizki Ayu R               230110140121
Wahyu Setiawan       230110140122


UNIVERSITAS PADJAJARAN
BANDUNG
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN PERIKANAN
2015





KATA PENGANTAR

           Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kami dapat menyelesaikan paper ini dengan judulPendekatan Aquatic dan Marine Prenership di Kabupaten Pandeglang, Banten”. Tujuan penulisan paper ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Perikanan.
           Paper ini membahas mengenai pengertian dan perkembangan  teori sosiologi menurut para ahli sosiologi, perkembangan tokoh sosiologi, teori sosiologi ekonomi, perkembangan sosiologi perikanan melalui pendekatan aquatic and marine prenership serta analisis studi kasus di wilayah Kabupaten Pandeglang Banten melalui metode historis pendekatan aquatic and marine prenership.
Pada kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Dr. Atikah Nurhayati, SP.MP, selaku Dosen mata kuliah Sosiologi Perikanan ;
2.      Seluruh anggota kelompok 5A ;
3.      Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Demikianlah harapan kami, semoga paper ini dapat bermanfaat bagi kami dan juga pembaca tentunya. Adanya saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan paper selanjutya sangat dihargai, kami ucapkan terima kasih.



                                                                Jatinangor, Maret 2015

                                                                                                       Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGATAR 
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
            2.1 Pengertian dan Perkembangan  Teori Sosiologi Menurut Para Ahli Sosiolog
            2.2 Perkembangan Tokoh Sosiologi
2.3 Teori Sosiologi Ekonomi
BAB III
ANALISIS 
             3.1 Sejarah Singkat Kabupaten Pandeglang
             3.2 Kondisi Umum
             3.3 Letak Geografis dan Kondisi Wilayah
             3.4 Kondisi Ekonomi Perairan
             3.5 Lingkungan Laut
             3.6 Kondisi Sosial Ekonomi Budaya
             3.7 Lingkungan Masyarakat

             3.8 Mengentaskan Kemiskinan Masyarakat Pesisir
             3.9 Pendekatan Konservasi
BAB IV
PENUTUP
             4.1 Kesimpulan
             4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA 



BAB I
PENDAHULUAN

Sosiologi adalah suatu studi positif tentang hukum-hukum dasar dari berbagai gejala sosial yang dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Istilah “sosiologi” pertama kali digunakan oleh Auguste Comte pada tahun 1839, seorang ahli filsafat kebangsaan Prancis. Definisi dari sosiologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan manusia dengan lingkungannya.
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki penduduk terbesar didunia. Selain itu, terdiri dari banyak ragam budaya, suku, ras maupun agama. Dari beragam perbedaaan tesebut memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung, baik dari interaksi sosial maupun kebiasaan yang sehari-hari dilakukan. Dari luasnya daratan dan lautan yang dimiliki menyimpan banyak potensi besar bagi rakyatnya. Salah satumya adalah bidang perikanan, baik perikanan tangkap, budidaya dan pengolahan.
Di dalam tugas ini akan membahas perkembangan Sosiologi Perikanan di daerah Pandeglang, Banten. Metode yang digunakan melalui pendekatan aquatic dan  marine prenership.
Tujuan disusunnya makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Perikanan pada semester 2, serta dapat memahami ruang lingkup Sosiologi Perikanan melalui pendekatan aquatic and marine prenership.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1. Pengertian dan Perkembangan  Teori Sosiologi Menurut Para Ahli Sosiologi
Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli:
a)  Emile Durkheim
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

b) Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
c)  Soejono Sukamto
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
d) William Kornblum
Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
e)  Roucek & Warren
 Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok sosial.
f)   William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf
 Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
g)  Max Weber
 Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.
h) Paul B. Horton
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

2.2. Perkembangan Tokoh Sosiologi
Tokoh-tokoh yang mempengaruhi perkembangan sosiologi
a)      Ibnu Khaldun (1332-1406)
         Ibnu Khaldun lahir di Tunisia, Afrika Utara, 27 Mei 1332 (Faghirazadeh, 1982). Ia lahir dari keluarga terpelajar, dimasukkan ke sekolah Al-Quran, kemudian mempelajari matematika dan sejarah. Semasa hidupnya ia membantu berbagai Sultan di Tunisia, Maroko, Spanyol dan Al-Jazair sebagai duta besar, bendaharawan dan anggota dewan penasehat sultan.
         Adapun pendapat Khaldun tentang watak-watak masyarakat manusia dijadikannya sebagai landasan konsepsinya bahwa kebudayaan dalam berbagai bangsa berkembang melalui empat mazhab yaitu fase primitif atau nomaden, fase urbanisasi, fase kemewahan, dan fase kemunduran yang mengantarkan kehancuran. Kemudian keempat perkembangan ini oleh Khaldun sering disebut dengan fase pembangun, pemberi gambar gembira, penurut, dan penghancur.


b)     Auguste Comte (1789-1857)
         Auguste Comte lahir di Mountpelier Perancis, 19 Januari 1798. Ia   merupakan bapak sosiologi, orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi (socius dan logos). Pengaruhnya besar sekali terhadap para teoritis sosiologi selanjutnya (terutama Hebert Spencer dan Emile Durkheim).Dia mempunyai anggapan bahwa sosiologi terdiri dari dua bagian pokok, yaitu social statistic (statika sosial atau struktur sosial yang ada) dan social dynamic (dinamika sosial atau perubahan sosial).
         Sebagai sosial statistik, sosiologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sebagai sosial dinamik, meneropong bagaimana lembaga-lembaga itu berkembang dan mengalami perkembangan sepanjang masa. Landasan pendekatan Comte ialah teori evolusinya atau hukum tiga tingkatan. Ia menyatakan ada tiga tingkatan intelektual yang harus dilalui dunia di sepanjang sejarahnya. Pertama, tahap teologis menekankan pada keyakinan bahwa kekuatan adikodrati, tokoh agama, dan keteladanan kemanusiaan menjadi dasar segala sesuatu. Kedua, tahap metafisik ditandai oleh keyakinan bahwa kekuatan abstraklah yang menerangkan segala sesuatu, bukannya dewa-dewa personal. Ketiga, tahap positivistik yang ditandai oleh keyakinan terhadap ilmu sains. Manusia mulai cenderung menghentikan penelitian terhadap (Tuhan atau alam) dan dunia sosial guna mengetahui hukum-hukum yang mengaturnya.
         Dalam teorinya tentang dunia, Comte menyatakan bahwa kekacauan intelektual menyebabkan kekacauan sosial. Menurut pandangannya, kehidupan di dunia ini sudah cukup kacau, dan yang dibutuhkan dunia adalah perubahan intelektual. Ada beberapa aspek lain yang juga berperan penting dalam pengembangan teori sosiologi. Ia menyatakan bahwa kita harus memperhatikan struktur sosial dan perubahan sosial. Ia menekankan besarnya peran konsesnsus dalam masyarakat. Dan ia juga menekankan perlunya memahami teori abstrak dan melakukan riset sosiologi. Comte yakin sosiologi akhirnya akan menjadi kekuatan ilmiah dominan di dunia karena kemampuan istimewanya dalam menafsirkan hukum sosial dan melakukan reformasi yang bertujuan menyelesaikan masalah dalam sistem.
         Menurut Comte, masyarakat harus diteliti atas dasar fakta-fakta objektif dan dia juga menekankan pentingnya penelitian-penelitian perbandingan antara berbagai masyarakat yang berlainan. Hasil karya Comte yang terutama adalah :
1.            The Scientific Labors Necerssary for Reorganization of Society (1822);
2.            The Positive Philosophy (6 jilid 1830-1840);
3.            Subjective Synthesis (1820-1903).

c)      Karl Marx (1818-1883)
         Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Ia adalah seorang ahli filsafat sejarah Jerman. Marx hidup selama abad ke-19, yaitu saat kapitalisme merajai wilayah Eropa dan Amerika.
         Marx yakin bahwa setiap manusia perlu bekerja di dalam dan dengan alam. Produktivitas mereka bersifat alamiah, yang memungkinkan mereka mewujudkan dorongan kreatif mendasar yang mereka miliki. Dengan kata lain manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial. Mereka perlu bekerja bersama untuk menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk hidup. Melalui perjalanan sejarah, proses alamiah ini dihancurkan, dan mencapai titik puncaknya dalam kapitalisme. Kapitalisme pada dasarnya adalah sebuah struktur yang membuat batas pemisah antara seorang individu dan proses produksi, produk yang diproses dan orang lain, dan akhirnya juga memisahkan diri individu itu sendiri.
         Dalam terminologi sarjana beraliran Marxist, tanaman produksi, pabrik baja, dan yang serupanya disebut sebagai alat-alat produksi, dan mereka yang menjadi pemiliknya disebut dengan kaum borjuis. Para pekerja yang menjual tenaganya untuk kaum borjuis itu disebut kaum proletar. Marx percaya bahwa setiap masyarakat kapitalis pada akhirnya akan terpecah oleh konflik antara kaum borjuis dan proletar.
         Menurut Marx, kapitalisme di dalamnya memiliki penyebab-penyebab kerusakannya. Kaum borjuis memberi upah yang sangat rendah sehingga kaum proletar hampir tidak mungkin bertahan hidup. Marx memberi prediksi bahwa kehidupan para pekerja yang sengsara itu akan memberi penyadaran bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari kesengsaraan itu adalah dengan bersatu dan melakukan revolusi. Marx juga percaya bahwa sifat dasar pekerja industri juga memberi kontribusi bagi kejatuhan kapitalisme. Marx yakin bahwa tragedi kapitalisme terjadi dengan cara bahwa suatu sistem mentransformasikan kerja dari sesuatu yang bermakna menjadi sesuatu yang tidak bermakna.

d)     Emile Durkheim (1858-1917)
         Emile Durkheim lahir di Epinal, Perancis 15 April. Dia adalah seorang sosiolog teoritis dan praktisi pendidikan. Durkheim fokus kepada kesatuan masyarakat. Menurutnya, sosiologi meneliti lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses-proses sosial. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas.
         Ia membedakan antara dua tipe utama solidaritas: solidaritas mekanis, dan solidaritas organis. Lambat laun pembagian kerja dalam masyarakat semakin berkembang sehingga solidaritas mekanis berubah menjadi solidaritas organis.
         Dalam The Rule of Sosiological Method (1895/1982) Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta sosial. Ia membayangkan fakta sosial sebagai kekuatan dan struktur yang bersifat eksternal dan memaksa individu. Ia  juga membedakan antara dua tipe fakta sosial: material dan nonmaterial. Ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitif dipersatukan terutama oleh fakta sosial nonmaterial. Sedangkan masyarakat modern, kekuatan kesadaran kolektif telah menurun, pembagian kerja yang ruwet, yang mengikat orang yang satu dengan orang lainnya dalam hubungan saling tergantung. Dan dalam karyanya yang terakhir, The Elementary Forms of Religious Life (1912/1965) Durkheim yakin bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Dalam agama primitif  benda-benda seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang didewakan. Akhirnya Durkheim menyimpulkan bahwa masyarakat dan agama adalah satu dan sama.
         Dalam masalah sosiologi, beliau mengklasifikasikan pembagian sosiologi atas tujuh kelompok, yaitu:
a.    Sosiologi umum yang mencakup kepribadian individu dan kelompok manusia.
b.    Sosiologi agama
c.    Sosiologi hukum dan moral yang mencakup organisasi politik, organisasi social,  perkawinan dan keluarga.
d.   Sosiologitentang kejahatan
e.    Sosiologi ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian dan kelompok kerja
f.     Demografi yang mencakup masyarakat pedesaan dan perkotaan
g.    Sosiologi estetika
Hasil karyanya yang terkemuka:
a.    The Social Division of Labor (1893)
b.    The Rules of Sociological Method (1895)
c.    The Elementary Forms of Religious (1912)

2.3.  Teori Sosiologi Ekonomi
Sosiologi ekonomi adalah studi sosiologis yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ekonomi dan fenomena sosial. Asumsi yang dibangun sosiologi ekonomi dalam melihat fenomena ekonomi adalah tindakan ekonomi sebagai suatu bentuk tindakan sosial, tindakan ekonomi disituasikan secara sosial, dan institusi ekonomi merupakan konstruksi sosial.
Tradisi sosiologi sendiri, dalam perkembangan studi sosiologi ekonomi mengalami pasang surut. Kontribusi awal paling signifikan mungkin dilakukan oleh Max Weber dalam ‘The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism’. Meskipun masih menuai perdebatan apakah The Protestan Ethic ‘menyebabkan’ kapitalisme, karya Weber dianggap sebagai salah satu sejarah studi sosiologi ekonomi yang mendapat banyak perhatian oleh para sosiolog. Kontribusi teori kontemporer dalam sosiologi ekonomi adalah analisis ekonomi dengan pendekatan social embeddedness. Meskipun Weber tidak pernah menyebutkan social embeddednes dalam teori sosiologi ekonomi-nya, beberapa sosiolog menyebut teori Weber sebagai ‘The Hidden Theory of Embeddedness’
Perkembangan sosiologi ekonomi tentang social embeddedness dilakukan oleh Karl Polanyi pada 1950. Namun, Polanyi lebih banyak mengkaji aspek political ekonomy dari embeddedness ketimbang social embeddedness itu sendiri. Para pemikir strukturalis di Amerika juga mengembangkan sosiologi ekonomi yang mendekatkan antara Economy dan Society, adalah Talcott Parson yang memberi banyak pengaruh pada sosiolog ekonomi sampai periode 1960-an. Tetapi, analisis pengikutnya yang terlalu bersifat institusionalis tidak diterima oleh para ekonom neoklasik pada waktu itu. Analisis itu juga dianggap oleh Granovetter sebagai cara pandang ‘oversocialized’ terhadap fenomena ekonomi.
Studi sosiologi ekonomi sempat mengalami vacuum sekitar tahun 1960-1970.Dalam arti, tidak ada karya intelektual yang memberi pengaruh signifikan terhadap sosiologi ekonomi. Sosiologi dan ekonomi seakan terpisah satu sama lain dengan segala persoalanya sendiri. Perkembangan sosiologi ekonomi mengalami kebangkitan kembali melaui artikel yang diterbitkan oleh American Journal of Sociology pada 1985 ‘Economic Action and Social Structure: The Problem of Embeddedness’. Perkembangan teoritis tersebut menjadi awal dari studi yang kini dikenal sebagai ‘The New Economic Sociology’.


BAB III
ANALISIS

3.1. Sejarah Singkat Kabupaten Pandeglang
Menurut Staatsblad Nederlands Indie No. 81 tahun 1828, Keresidenan Banten dibagi tiga kabupaten: Kabupaten Utara yaitu Serang, Kabupaten Selatan yaitu Lebak dan Kabupaten Barat yaitu Caringin. Kabupaten Serang dibagi lagi menjadi 11 (sebelas) kewedanaan. Kesebelas kewedanaan tersebut yaitu: Kewedanaan Serang (Kecamatan Kalodian dan Cibening), Kewedanaan Banten (Kecamatan Banten, Serang dan Nejawang), Kewedanaan Ciruas (Kecamatan Cilegon dan Bojonegara), Kewedanaan Cilegon (Kecamatan Terate, Cilegon dan Bojonegara), Kewedanaan Tanara (Kecamatan Tanara dan Pontang), Kewedanaan Baros (Kecamatan Regas, Ander dan Cicandi), Kewedanaan Kolelet (Kecamatan Pandeglang dan Cadasari) Kewedanaan Ciomas (Kecamatan Ciomas Barat an Ciomas Utara) dan Kewedanaan Anyer (tidak dibagi kecamatan).
Menurut sejarah, pada tahun 1089 Banten terpaksa harus menyerahkan wilayahnya yaitu Lampung kepada VOC (Batavia).Saat itu Banten dipimpin oleh Sultan Muhamad menyusun strategi untuk melawan kekuasaan VOC. Sultan Muhamad menjadikan Pandeglang sebagai wilayah untuk menyusun kekuatan.Kekuatan kesultanan dipencar kepelosok Pandeglang seperti di kaki gunung Karang dan di pantai.Pandeglang dalam percaturan sejarah kesultanan Banten telah terbukti merupakan daerah yang strategis.Hal ini bisa terlihat dari berbagai peninggalan sejarah yang terdapat di wilayah Pandeglang. Semua itu bukan hanya membekas pada benda yang berwujud, tapi juga membekas pada kultur kehidupan masyarakat Pandeglang.
Peninggalan sejarah kesultanan Banten masih nampak terlihat dari seni budaya yang ada di Pandeglang.Misalnya saja, Pandeglang merupakan Kota Santri dan Pandeglang terkenal dengan daerah yang historis, patriotis dan agamis. Julukan ini tidak serta merta timbul dengan sendirinya, akan tetapi merupakan bentangan sejarah telah mencatatnya.
Saat ini Pandeglang tetap merupakan wilayah yang strategis di wilayah Provinsi Banten.Sejarah kembali mencatat, Pandeglang dengan tokoh-tokoh masyarakatnya memberi andil besar dalam pembentukan Provinsi Banten. Sejarah Pandeglang mencatat juga, bahwa saat dipimpin oleh Bupati H. A. Dimyati Natakkusumah, Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri dan Swasta di Kabupaten Pandeglang Bebas Biaya Sekolah dan pada tahun 2007 pembangunan sarana pendidikan dibangun dengan menggunakan rangka baja. Kembali kepada sejarah terbentuknya Kabupaten Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874, tanah-tanah gubernur kecuali Bativia dan Keresidenan Priangan telah Banten telah ditentukan, bahwa:
a. Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer, Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan.
b. Bupati mempunyai pembantu, yaitu mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden.
c. Kepala Distrik mempunyai gelar jabatan wedana dan Onder Distrik mempunyai jabatan Asisten Wedana.
Berdasarkan Staatsblad 1874 NO. 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874 mulai berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya Kabupaten Pandeglang dibagi 9 distrik atau kewedanaan. Pembagian ini menjadi Kewedanaan Pandeglang, Baros, Ciomas, Kolelet, Cimanuk, Caringin, Panimbang, Menes dan Cibaliung.f
Menurut data tersebut di atas, Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam ordonansi 1877 Nomor 224 tentang batas-batas keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupten Pandeglang dalam tahun 1925 dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 nomor XI. Maka jelas Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri tidak di bawah penguaasaan Keresidenan Banten.
Dari fakta-fakta tersebut di atas dapat diambil beberapa alternatif, yaitu pada tahun 1828 Pandeglang sudah merupakan pusat pemerintahan distrik. Pada tahun 1874 Pandeglang merupakan kabupaten. Pada tahun 1882 Pandeglang merupakan kabupaten dan distrik kewedanaan. Dan pada tahun 1925 kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri. Atas dasar kesimpulan-kesimpulan tersebut di atas, maka disepakati bersama bahwa tanggal 1 April 1874 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pandeglang.
3.2. Kondisi Umum
Kabupaten Pandeglang merupakan kabupaten di Provinsi Banten yang memiliki kondisi terumbu karang yang masih baik jika dibandingkan kabupaten lainnya. Dasar hukum penetapan KKLD Kab.Pandeglang adalah SK Bupati Nomor 660/Kep.369-Huk/2007.
Provinsi                  : Banten
Kabupaten / Kota  : Pandeglang
Nama Kawasan      : Kawasan Konservasi Laut Pandeglang
Dasar Hukum         : Keputusan Bupati Pandeglang
Nomor                    : 660/Kep.369 - Huk/2007
Tipe Kawasan        : Kawasan Konservasi Perairan Daerah
Luas Kawasan       : 7,391.00
Kategori IUCN      : VI
Garis Lintang         : 6021' - 7010' LS
Garis Bujur            : 104048’ - 106011’ BT
3.3. Letak Geografis dan Kondisi Wilayah
Wilayah Kabupaten Pandeglang berada pada bagian Barat Daya Propinsi  Banten dan secara Geografis terletak antara 6o21’  –  7o10’ Lintang Selatan (LS) dan 104o8’ – 106o11’ Bujur Timur ( BT ), dengan batas administrasinya adalah :
-  Sebelah Utara             :  Kabupaten Serang
-  Sebelah Timur            :  Kabupaten Lebak
-  Sebelah Selatan          :  Samudera Indonesia
-  Sebelah Barat             :  Selat Sunda
Luas wilayah Kabupaten Pandeglang adalah 274.689,91 Ha atau 2.747 Km2 dan secara wilayah kerja administrasi terbagi atas  35  kecamatan, 322  desa dan  13 kelurahan.
Dataran di Kabupaten Pandeglang sebagian besar merupakan dataran rendah yakni di daerah bagian tengah dan  selatan, dengan variasi ketinggian antara 0 – 1.778 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan luas sekitar 85,07% dari luas wilayah Kabupaten. Secara umum perbedaan ketinggian di Kabupaten Pandeglang cukup tajam, dengan titik tertinggi 1.778 m diatas permukaan laut (dpl) yang terdapat di Puncak Gunung Karang pada daerah bagian utara dan titik terendah terletak didaerah pantai dengan ketinggian 0 m dpl.
Daerah pegunungan pada umumnya mempunyai ketinggian ± 400 m dpl, dataran rendah  bukan pantai pada umumnya memiliki ketinggian rata-rata 30 m dpl dan daerah dataran rendah pantai pada umumnya mempunyai ketinggian rata-rata 3 m dpl. Kemiringan tanah di Kabupaten Pandeglang bervariasi antara 0  –  45 %; dengan alokasi 0-  15 % areal pedataran sekitar Pantai Selatan dan pantai Selat Sunda; alokasi 15  –  25 % areal berbukit lokasi tersebar; dan alokasi 25  –  45 % areal bergunung pada bagian Tengah dan Utara.
Di Pandeglang terdapat 6 gunung yaitu : Gunung Karang (1.778 mdpl), Gunung Pulosari (1.346 mdpl), Gunug  Aseupan  (1.174 mdpl), Gunug Payung (480 mdpl), Gunung Honje (620 mdpl) dan Gunung Tilu (562 mdpl).
Curah hujan di atas 3.000 mm/tahun terjadi di sekitar Stasion Penakar Hujan yang berada di  sekitar Kecamatan Menes, Labuan, Cibaliung, Mandalawangi dan Kecamatan Jiput.  Puncak hari hujan berada pada bulan November-Pebruari.Sedangkan bulan kering berada pada bulan Mei-September. Berdasarkan rata-rata curah hujan per  tahun,  -menurut  klasifikasi Koppen-Kabupaten Pandeglang termasuk kedalam iklim Af (Iklim Hujan Tropis) sedangkan apabila dilihat berdasarkan Zone Agroklimat Oldeman termasuk dalam Zone A1.
Kabupaten  Pandeglang ditinjau dari segi geologi memiliki beberapa jenis batuan yang meliputi Alluvium, Undieferentiated (bahan erupsi gunung berapi), Diocena, Piocena Sedimen, Miocena Lemistone dan Mineral Deposit. Sedangkan beberapa jenis tanah yang ada di Kabupaten Pandeglang yaitu Aluvial, Grumosol, Mediteran, dan Latosol.
Keadaan geomorfologi, topografi dan bentuk wilayah secara bersama-sama akan membentuk pola-pola aliran sungai yang ada. Pola aliran sungai di Wilayah Kabupaten Pandeglang pada umumnya berbentuk dendritik.  Arah aliran sungai-sungai di Wilayah ini dibedakan menjadi dua, sehingga membentuk dua daerah aliran sungai yaitu daerah aliran dari arah Timur yang bermuara di Selat Sunda dan daerah aliran dari arah Utara yang bermuara di Samudera Indonesia.
Wilayah Kabupaten Pandeglang mengalir 14 sungai yang berukuran sedang sampai besar.  Sungai  –  sungai tersebut adalah Sungai Cidano, Sungai Cibungur, Sungai Cisanggona, Sungai Ciliman, Sungai Cihonje, Sungai Cipunagara, Sungi Cisumur, Sungai Ciseureuhan, Sungai Cijaralang, Sungai Cikadongdong, Sungai Ciseukeut, Sungai Cimara, Sungai Cibaliung, dan Sungai Cicanta. Dari ke-14 sungai tersebut terbagi dalam 6 (enam) Daerah Aliran Sungai (DAS) antara lain :
a.    Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciujung
b.    Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidano
c.    Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibungur
d.   Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliman
e.    Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimandiri
f.     Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikeruh
3.4. Kondisi Ekonomi Perairan
Di perairan Kabupaten Pandeglang terdapat penutupan karang keras yang bervariasi dari buruk sekali hingga baik. Kondisi terburuk ditemukan di Karang Kabua karena lokasi ini didepan pelabuhan perikanan dan banyak aktivitas manusia disekitarnya. Kondisi terbaik dapat ditemukan di 3 lokasi yaitu Pulau Liwungan, Pulau Badul dan Karang Badul dengan penutupan karang hidup diatas 60 %. Nilai CFDI (coral fish diversity index) di perairan Kabupaten Pandeglang sebesar 106 dengan estimasi total fauna sebanyak 338.745 spesies. Hal ini berarti perairan pandeglang memiliki keanekaragaman spesies yang termasuk kategori buruk (poor), namun di lokasi pengamatan Pulau Badul masih dalam kategori sedang. Rata-rata kelimpahan ikan karang secara keseluruhan sebesar 9.783 ind.ha-1. Di Pandeglang juga terdapat 7 situ yang luasnya 580 ha sebagai sebaran air di permukaan yang berfungsi sebagai sumber daya air di Kabupaten Pandeglang.



3.5. Lingkungan Laut
Lingkungan laut di Kabupaten Pandeglang  bagian barat, yang berbatasan dengan Selat Sunda. Selat Sunda disamping Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), juga merupakan perairan yang sangat menarik, sebab pada musim timuran, saat terjadi surut di Samudera Hindia akan terjadi pertemuan dua arus di Samudera Hindia dengan masa air laut dari Laut Jawa yang berbeda karakteristiknya. Pada pertemuan dua masa air laut ini biasanya diikuti oleh banyaknya ikan.
Pada musim baratan, curah hujan di DAS Ciliman yang bermuara ke Teluk Lada sangat besar, sehingga debit air yang mengalir ke Teluk Lada menyebabkan menurunnya salinitas air laut. Di pihak lain perairan seperti itu merupakan daerah subur bagi ikan-ikan yang hidup di perairan payau yang bermigrasi ke laut. Biota laut Selat Sunda relatif kaya (beragam) dan sangat spesifik.

3.6. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya                                        
a.    Mata Pencaharian                                  
Pertanian merupakan sektor dominan
b.    Potensi Perikanan
Potensi sumberdaya perikanan laut masih sangat terbuka untuk dilakukannya intensifikasi dan ekstensifikasi (pengembangan) produksi, mengingat Kabupaten Pandeglang memiliki panjang pantai 307 km yang membentang sepanjang pesisir Barat dan selatan kabupaten Pandeglang sampai perbatasan Malingping (kabupaten Lebak). Intensifikasi dan ekstensifikasi sumberdaya perikanan laut ini dapat dilakukan pengembangan industri pengalengan/penjemuran/pengeriangan ikan, optimalisasi fungsi Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pembangunan tambak dan hatchery. Demikian juga dengan pengembangan perikanan darat (air tawar) sebagai kegiatan substitusi dari usaha pertanian lahan basah (padi), disamping ketersediaan lahan budidaya dan sumber mata air yang cukup banyak.
3.7.  Kondisi Masyarakat
Masyarakat di kabupaten Pandeglang di dominasi masyarakat pesisir yang  difokuskan pada kelompok nelayan dan pembudidaya ikan serta pedagang dan pengolah ikan. Kelompok ini secara langsung mengusahakan dan memanfaatkan sumberdaya ikan melalui kegiatan penangkapan dan budidaya. Kelompok ini pula yang mendominasi pemukiman di wilayah pesisir di seluruh Indonesia, di pantai pulau-pulau besar dan kecil. Sebagian masyarakat nelayan pesisir ini adalah pengusaha skala kecil dan menengah. Namun lebih banyak dari mereka yang bersifat subsisten, menjalani usaha dan kegiatan ekonominya untuk menghidupi keluarga sendiri, dengan skala yang begitu kecil sehingga hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka waktu sangat pendek.
Dari sisi skala usaha perikanan di kabupaten Pandeglang, kelompok masyarakat pesisir miskin diantaranya terdiri dari rumah tangga perikanan yang menangkap ikan tanpa menggunakan perahu, menggunakan perahu tanpa motor dan perahu bermotor tempel. Dengan skala usaha ini, rumah tangga ini hanya mampu menangkap ikan di daerah dekat pantai. Dalam kasus tertentu, memang mereka dapat pergi jauh dari pantai dengan cara bekerjasama sebagai mitra perusahaan besar. Namun usaha dengan hubungan kemitraan seperti tidak begitu banyak dan berarti dibandingkan dengan jumlah rumah tangga yang begitu banyak.

3.8. Mengentaskan Kemiskinan Masyarakat Pesisir
Berbagai program, proyek dan kegiatan telah dilakukan untuk mengentaskan nelayan dari kemiskinan di kabupaten Pandeglang.Desa-desa pesisir semakin hari semakin luas areanya dan banyak jumlahnya. Karena itu meskipun banyak upaya telah dilakukan, umumnya bisa dikatakan bahwa upaya-upaya tersebut belum membawa hasil yang memuaskan.
Salah satunya dengan motorisasi armada nelayan skala kecil, yaitu  program yang dikembangkan pada awal tahun 1980-an untuk meningkatkan produktivitas. Program motorisasi dilaksanakan di daerah padat nelayan, juga sebagai respons atas dikeluarkannya Keppres No. 39 tahun 1980 tentang penghapusanpukat harimau. Program ini semacam kompensasi untuk meningkatkan produksi udang nasional.
Namun ternyata motorisasi armada ini banyak gagal karena tidak tepat sasaran yaitu bisa melawan nelayan kecil, dimanipulasi oleh aparat dan elit demi untuk kepentingan mereka dan bukannya untuk kepentingan nelayan. Akan tetapi program motorisasi ini juga membawa dampak positip, dilihat dari bertambahnya
jumlah perahu bermotor di banyak daerah di Indo-nesia. Saat ini bila ada program pemerintah untuk mengadakan armada kapal/perahu nelayan, atau bila ada rencana investasi oleh nelayan, selalu pengadaan motor penggerak perahu menjadi permintaan nelayan.
 Program lain yang dikembangkan untuk mengentaskan kemiskinan adalah pengembangan nilai tambah melalui penerapan sistem rantai dingin (cold chain system). Sistem rantai dingin adalah penerapan cara-cara penanganan ikan dengan menggunakan es guna menghindari kemunduran mutu ikan. Dikatakan sistem rantai dingin karena esensinya yaitu menggunakan es di sepanjang rantai pemasaran dan transportasi ikan, yaitu sejakditangkap atau diangkat dari laut hingga ikan tiba di pasar eceran atau di tangan konsumen.

3.9. Pendekatan Konservasi
Kabupaten Pandeglang memiliki potensi pariwisata diantaranya sumber mata air panas Cisolong yang terletak di Kecamatan Banjar, situ Cikedal di kecamatan Cikedal, Pantai Carita yang terletak di Kecamatan Labuan, Kolam Renang Alam Cikoromoy di Kecamatan Mandalawangi, wisata Pantai Bama di Kecamatan Pagelaran, wisata Tanjung Lesung di Kecamatan Panimbang. Dari kabupaten ini juga menjadi pintu masuk menuju Taman Nasional Ujung Kulon yaitu melalui Kecamatan Panimbang yang merupakan batas timur dari taman nasional
Daerah pantai di Pandeglang Banten menjadi salah satu andalan di sektor pariwisata di daerah pulau Jawa, seperti Pantai Carita, Tanjung Lesung, Taman Nasional Ujung Kulon dan objek wisata lainnya. Pandeglang yang hampir setiap akhir pekannya selalu di jadikan primadona kunjungan wisatawan baik dari Banten maupun luar Banten,
Dengan jumlah penduduk sekitar 1.120.500 jiwa atau 12,45% dari total penduduk Provinsi Banten yang memiliki kultur masyarakatnya yang agamis, histories, dan patriotis, pemerintah setempat telah mampu mengembangkan perpaduan pembangunan di segala bidang seperti sector pertanian, perumahan, dan industri kecil untuk mengimbangi dan mendukung pesatnya perkembangan pariwisata.
Menyebut Pandeglang sebagai daerah yang memiliki potensi wisata, memang benar adanya. Pandeglang adalah sebuah kota kecil di Perbatasan Kabupaten Lebak dengan Kabupaten Serang bagian Barat, merupakan daerah  yang sampai saat ini masih alami. Belum banyak potensi alam yang disentuh dengan tangan manusia apalagi teknologi.Keaslian inilah yang merupakan aset Pandeglang untuk dapat berkembang menjadi daerah tujuan wisata.Di Pandeglang juga banyak ditemukan objek wisata bernuansa mistis yang memiliki nilai spiritual dan magis serta diyakini menyimpan kekuatan gaib.Adapun beberapa objek wisata yang dimaksud adalah Obyek Wisata Batu Quran.








BAB 1V
PENUTUP


4.1. Kesimpulan
Pandeglang memiliki potensi yang besar dalam sektor perikanan, diantaranya perikanan budidaya dan tangkap. Dalam perikanan budidaya terlihat dari luasnya lahan dan banyaknya sumber mata air. Sehingga dapat dijadikan budidaya kolam terpal maupun kolam tembok. Dan dapat pula digabungkan dengan sector pertanian, contohnya minapadi (menanam padi dengan memelihara ikan di lahan yang sama). Kemudian pada situ-situ dan sungai yang dimiliki dapat dibuat kolam jaring apung. Pada pesisir pantai, masyarakat sekitar dapat memanfaatkan sebagai lahan tambak, dan tempat hatchery. Dapat juga dijadikan lahan penghasil garam.
Dalam perikanan tangkap, masyarakat sekitar pesisir pantai dapat memanfaaatkan Samudera Indonesia dan Selat Sunda. Karena saat musim timuran terjadi pertemuan 2 arus antara arus Samudera Indonesia dan Selat Sunda. Mengakibatkan banyaknya ikan yang berkumpul disekitar daerah tersebut. Kemudian didaerah sekitar muara di Teluk Lada, pada musim baratan salinitas laut di daerah tersebut menurun menyebabkan daerah tersebut menjadi subur. Sehingga banyak ikan yang berkumpul didaerah tersebut untuk mencari makan. Sangat disayangkan dengan banyaknya potensi yang ada, namun tidak dapat dimaksimalkan oleh Pemerintah Kabupaten maupun Daerah serta masyarakat Kabupaten Pandeglang, Banten.    

4.2. Saran                                                             
Dalam hal tersebut, dapat dilihat bahwa Pemerintah Kabupaten kurang memperhatikan kesejahteraan masyarakat di Pandeglang, Banten. Seharusnya dengan banyaknya potensi yang ada, PEMKAB Pandeglang membuat langkah riil dalam memajukan dan mensejahterahkan masyarakatnya. Dengan memaksimalkan potensi yang ada, maka tingkat kesejahteraan masyarakat akan meningkat sehingga dapat menaikkan penghasilan daerah tersebut, baik dari sektor perikanan maupun pariwisata. Pastinya sangat membantu dan memudahkan masyarakat menengah ke bawah yang hanya mengandalkan sektor pertanian sebagai penghasilan utamanya dan membantu masyarakat pesisir pantai yang tidak memiliki penghasilan dan pekerjaan tetap.















DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007.http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/basisdata-kawasan-konservasi/details/1/77. Diakses pada tanggal 8 Maret 2015.Pada pukul 21.04 WIB.
Anonim, 2010.http://www.foxitsoftware.com.Diakses pada tanggal 8 Maret 2015.Pada pukul 21.32 WIB.
Anonim, 2002.http://www.dephut.go.id/Halaman/PDF/renstra02-06.pdf. Diakses pada tanggal 8 Maret 2015.Pada pukul 22.04 WIB
Anonim. 2011. http://www.pandeglangkab.go.id/profil.php?prof=NA==. Diakses pada tanggal 9 Maret 2015. Pada pukul 14.01 WIB
Harim,Sidiq. 2013.http://sosiologis.com/sosiologi-ekonomi-definisi-dan-sejarahnya. Diakses pada tanggal 9 Maret 2015. Pada pukul 14.13 WIB










Tidak ada komentar:

Posting Komentar